Berita UtamaBogorianNews

Ini Peringatan Karuhun Bogor. Gedung Kesenian Kota Bogor Diterjang Angin Puting Beliung.

Walikota Bima Arya Mengaku Heran Peristiwa Itu Terjadi Disaat Cuaca Cerah. Ini Agak Aneh

loading...

BRO. Peristiwa Angin Puting beliung, yang merusak atap seng bangunan kesenian Kota Bogor Di lingkungan kantor Pemkot Bogor, lebih dimaknai sebagai peringatan karuhun Bogor agar Pemkot Bogor mengoreksi diri berkaitan dengan keberadaan kearifan lokal sebagai upaya melestarikan kekayaan cagar budaya.

“Mangkahade Ulah Calutak ka Karuhun. Bisi katulah ( hati-hati jangan mempermainkan Karuhun . Bisa membuat sengsara semua orang),”kata Sekjen Konsorsium Peduli Bogor, Kang Salehudin Nurangga ketika dimintai komentarnya terkait kejadian angin puting beliung, diawal tahun 2022.Senin (3/1).

Baca Juga   :Debt Colector Sita Paksa Kendaraan, BCA Finance Bogor Digugat

Peristiwa angin puting beliung itu, sempat menerjang atap seng bangunan gedung kesenian Kota Bogor. Senin (3/10). Akibatnya sejumlah atap seng gedung tersebut terlepas dan jatuh menimpa dua mobil dinas milik Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pint(DPMPTSP) Kota Bogor dan merusak sejumlah motor yang parkir di halaman gedung kesenian terkena serpihan material bangunan.

Peristiwa angin puting beliung tidak ada korban jiwa hanya saja merusak atap bangunan gedung kesenian Kota Bogor. Bahkan kejadian tersebut membuat sejumlah masyarakat bertanya Ada pertanda apa yang bakal terjadi di Pemkot Bogor di tahun 2022 ini ?

“Peristiwa tersebut terjadi begitu cepat, hanya per sekian detik,”ujar satpam setempat Adi Yusuf ketika ditemui awak media, Senin (03/01).

Sedangkan masih menurut Salehudin Nurangga, masyarakat peduli cagar budaya Kota Bogor yang tergabung dalam Pemuda Sunda Menggugat, sedang memberi perhatian khusus menyoal mengembalikan marwah Kebun Raya Bogor yang memiliki lima fungsi penting dalam pengelolaannya.

Baca Juga   :Polresta Bogor Kota Gelar Layanan Vaksinasi, Puluhan Penumpang Terjaring Gerebeg Vaksin Dikasih Paket Beras.

Bahkan ungkap Solehudin , seharusnya Walikota Bogor Bima Arya, memberikan kepastian hukum atas permasalahan Kebun Raya Bogor, menetapkan Istana Batu Tulis menjadi Kawasan Cagar Budaya, menyelesaikan aset sejarah Sumur Tujuh, serta menetapkan Bungker Mandiri 2 di Lawanggintung menjadi Kawasan Cagar Budaya berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2021.

“kami yakin para karuhun menyaksikan dan tidak diam. Inilah peringatan dengan kejadian angin puting beliung di lingkungan kantor Pemkot Bogor,”ujar Kang Saleh panggilan akrabnya.

walikota Bogor tinjau Gedung kesenian yang diterjang angin puting beliung , Senin (03/01).foto : Ceklissatu.com/SiBro

Sementara Wali Kota Bogor Bima Arya ketika meninjau bangunan gedung kesenian tersebut mengaku heran mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi ketika  kondisi cuaca sedang cerah.

“Tadi cuacanya cerah ya, agak aneh juga. Nanti saya minta cek lagi secara keseluruhan kelayakan gedung ini ya. Tapi di sini jarang sekali terjadi seperti ini, mungkin baru pertama kali ini,” ungkapnya.

Sekedar Informasi, masih ingat dengan kejadian Angin puyuh yang merusak seribuan bangunan di seputaran Istana Batu Tulis Bogor atau daerah keramat Dayeuh Pakuan. Musibah itu terjadi pada Kamis (6/12) di tahun 2018 silam.

Sebagian kalangan percaya bahwa peristiwa dahsyat ini akibat adanya karuhun (leluhur) Bogor yang terusik. Sebab, di lima kelurahan yang menjadi titik utama musibah angin puyuh, ada enam makam keramat yang berhubungan erat dengan Kerajaan Pajajaran.

Bahkan Keterkaitan bencana angin puyuh dengan teguran Karuhun Bogor, harus disikapi secara serius oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. karena ada proyek pembangunan di areal yang disakralkan, yakni di lokasi Sumur Tujuh, berada di bawah Istana Batu Tulis. Sumber mata air ini, dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran.

“Karuhun Bogor merasa terusik karena ada proyek pembangunan di areal yang disakralkan, yakni di lokasi Sumur Tujuh, yang berada di bawah Istana Batu Tulis. Sumber mata air ini, dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran,” demikian kata kasepuhan Bogor Nurmuddin, seperti dikutip dari politikabogor.com (10/12/2018)

kebanyakan masyarakat saat ini tidak begitu percaya hal-hal berbau mistis dan keberadaan karuhun.

“Padahal, sudah jelas ada fakta sejarah dan bukti fisik keberadaan Karuhun itu,”ucapnya.

Editor : Azwar Lazuardy

 

 

 

 

 

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close