Berita UtamaBogorianaNewsNusaraya

Keren, Ibu Rosita Perintis Kawasan Hutan Organik Megamedung Puncak Bogor Masuk Nominasi Penerima Kalpataru

Merubah Lahan Kritis Menjadi Kawasan Hutan Organik Sebagai Penyelamat Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Jadi ada 21 nominasi, bakal menerima Kalpataru. Salah satunya Ibu Rosita, sebagai pelopor penyelamat Hutan Organik, beliau bersama keluarga dan anggotanya sudah berbuat sesuatu hal perbaikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kehutanan,”ungkap Kepala Subdit Pengembangan Mitra Lingkungan Hidup KLHK, Umirusyanawati ketika meninjau kawasan Hutan Organik, (3/5)

 

BRO. KABUPATEN BOGOR – Kegigihan Ibu Rosita, selama belasan tahun merubah kawasan lahan kritis menjadi kawasan Hutan Organik, di Megamendung Puncak, Kabupaten Bogor, membuat dirinya masuk nomonasi sebagai penerima Kalpataru dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dengan rasa haru, Ibu Rosita sang perintis penyelamat lingkungan itu, menerima kedatangan Tim Kalpataru dari Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan, di Lokasi Kawasan Hutan Organik Megamendung Puncak Bogor, Rabu (03/5).

Kedatangan mereka tentu bukan tanpa alasan yaitu untuk melakukan verifikasi dan memvalidasi keberadaan Hutan Organik yang terpilih menjadi salah satu kandidat sebagai penerima Kalpataru tahun 2023.

hutan Organik
Tim Kalpataru KLHK ketika meninjau kawasan Hutan Organik Megamendung Puncak Bogor, Rabu (3/5). Foto :dok.SiBro

“Setiap tahun dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup, KLHK memberikan apresiasi Kalpataru kepada masyarakat penggiat lingkungan baik individual maupun kelompok. Jadi Kalpataru ini diberikan kepada masyarakat baik yang individu maupun kelompok yang melakukan pemulihan kualitas lingkungan hidup dan kehutanan,”jelas Kepala Subdit Pengembangan Mitra Lingkungan Hidup KLHK, Umirusyanawati ketika meninjau kawasan Hutan Organik, (3/5)

Paling membanggakan kata Umirusyanawati, keberadaan Hutan Organik Megamendung Bogor menjadi salah satu nominasi dari 348 usulan seluruh Indonesia.

“Jadi ada 21 nominasi, bakal menerima Kalpataru. Salah satunya Ibu Rosita, sebagai pelopor penyelamat hutan organik, dimana beliau dan anggotanya sudah melakukan sesuatu hal perbaikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kehutanan,”ungkapnya bangga.

Program Kalpataru ini ada 4 kategori, pertama perintis lingkungan, pengabdi lingkungan untuk para ASN dan honoring diluar tupoksinya sebagai karyawan melakukan sesuatu hal untuk memulihkan kualitas lingkungan, ketiga penyelamat lingkungan seperti kelompok yang dilakukan ibu rosita dan terakhir pembina lingkungan.

Lalu apa yang dinilai nantinya? menurut Umi ada beberapa tahapan, untuk awal adanya usulan dari pemerintah Jawa Barat, lalu dengan usulan tersebut pihaknya akan melakukan verifikasi dan validasi apa yang diusulkan.

“Di lapangan ini apakah sama kenyataanya atau tidak, namun kenyataannya sama malah melebihi dari apa yg diusulkan. Ternyata disini banyak sekali yg sudah dipulihkan dan diselamatkan oleh hutan organik ini,”ujarnya

Bahkan keberadaan Hutan Organik Megamendung Puncak Bogor, kata dia bisa menjadi rujukan untuk melakukan edukasi lingkungan dan ekowisata.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menurut Umy di Jawa Barat sendiri ada tiga yang direkomendasikan, dari Sukabumi, Kuningan mereka masuk dalam kategori perintis jadi perorangan. Di Bogor hanya satu yakni Hutan Organik Megamendung Bogor.

“Jadi, untuk penyelamat lingkungan Pemerintah pusat memberikan bantuan melalui program replikasi dan itu dananya diberikan secara stimultan,”katanya

Sementara Sekdis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Endah yang juga turut mendampingi kedatangan tim verifikasi penerima Kalpataru dari KLHK, mengatakan alasan mengusulkan Hutan Organik karena secara kriteria sudah layak mendapat penghargaan itu, ditambah secara pendanaan dilakukan secara mandiri.

“Jujur kita dari Pemerintah kabupaten Bogor tidak ada bantuan dana untuk hutan organik, mereka itu pecinta lingkungan sekeluarga, dari tanah kosong lahan kritis mereka rawat sampai menjadi hutan,” katanya.

Diakui Endah, sebelumnya memang hutan organik pernah diusulkan tapi gagal, karena ada beberapa kriteria yang kurang sehingga tidak masuk.

“Itu dikarenakan banyak data yang belum kita perbaharui. Kita berharap tahun ini hutan organik bisa mendapatkan Kalpataru,” katanya.

Sedangkan Perintis Hutan Organik, Megamendung, Ibu Rosita Istiawan mengatakan banyak orang mendukung keberadaan hutan organik atau bisa disebut hutan mini.

Memang sebelumnya tahun 2005, kata Ibu Rosita , Hutan Organik pernah diajukan penghargaan Kalpataru tapi tidak lolos, dan saat ini baru diajukan kembali oleh Pemkab Bogor dan Pemerintah provinsi Jawa Barat.

“Mereka (tim verifikasi,red) harus datang ke lokasi melihat keberadaan hutan organik ini, dan apa saja yang ada disini. Kita satu keluarga hanya peduli lingkungan dan kita disini kebun raya kecil, 40 ribu pohon dari seluruh indonesia ada disini,” Ungkap Ibu Rosita dengan bangga

Tak hanya itu, hutan organik ini ada perjalannya tidak langsung jadi, dari luas tanah 2000 meter sekarang 30 hektar yang berada di dua desa yakni Desa Megamendung dan Desa Gunung Geulis Kabupaten Bogor

“Satu pesan saya, walaupun Hutan organik tidak mendapatkan Kalpataru, tapi hutan ini tetap hutan organik dan makin lama makin besar, bukan untuk anak cucu tapi untuk semua masyarakat,” ujarnya.

Kedatangan Tim Kalpataru Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke kawasan Hutan Organik juga dihadiri oleh Perhutani Wilayah 1 Jabar, perwakilan akademisi dosen IPB serta beberapa perwakilan pegiat lingkungan, muspika Kecamatan dan perangkat desa Megamendung dan element masyarakat serta tokoh masyarakat.

Editor : Adjet

Show More

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button