Berita UtamaBogorianNewsNusaraya

Ricuh, Ratusan Massa Pendukung Pembebasan Habib Rizieq Kepung Balaikota Bogor

loading...

BRO. Ratusan massa pendukung pembebasan Habib Rizieq Shihab (HRS), melakukan aksi demo, di Balaikota Bogor, berakhir ricuh, Rabu (9/6)

Berdasarkan Pantauan, kericuhan itu terjadi saat pendemo tengah berorasi sekitar 12.36 WIB. Tiba-tiba beberapa pengunjuk rasa berusaha masuk ke dalam kantor Balai Kota. Namun langkah mereka terhenti, setelah Satpol PP, yang bersiaga memblokir pintu masuk Balaikota dengan berjaga di tangga depan Balai Kota.

Sementara beberapa pengunjuk rasa tetap ngotot meringsek masuk hingga terjadi aksi dorong-mendorong dan teriakan tak terhindarkan,situasi pun berakhir ricuh.

Foto :dok.SiBro

Meski demikian, petugas keamanan tetap menjaga dan menenangkan massa agar situasi tetap kondusif dengan mengajak perwakilan pengunjuk rasa untuk berdialog.

Baca Juga : Catatan DPRD : Pemkot Bogor Dinilai Kurang Maksimal Terapkan Sanksi Bagi Pelanggar Prokes Covid-19.

Massa yang berjumlah sekitar 150 orang itu, menuntut Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto bertanggungjawab atas dipenjaranya HRS.

“Kami tidak akan bubar sebelum ada Bima Arya,”kata Ustad Asep Abdul Khodir yang merupakan Korlip dalam aksi ini.

Atas insiden tersebut, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor,  Agustiansyah meminta maaf karena terjadi saling dorong dengan para pengunjukrasa.

foto : dok.SiBro

” Terima kasih atas kedatangan bapak ibu , mari kita tetap tertib dan kondusif. Kalau pun ada teriak-teriakan, saya maklumi itu,” ungkap Agustian Syah di hadapan para pengunjuk rasa.

Agustiansyah juga meminta permohonan maaf apabila ada tindakan petugas yang kurang berkenan termasuk terhadap keluarga besar Imam Besar Habib Rizieq.

“Kedatangannya tadi,kurang pas, tapi kita sudah sepakat bahwa Balaikota harus kondusif,” ujarnya.

Editor : Azwar Lazuardy

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close