Berita UtamaBogorianNewsPendidikanPolitika

Wakil Wali kota Bogor ; Pemkot Bogor Jangan Tergesa-gesa dan Gegabah Menyoal Sekolah Tatap Muka

Wali Kota Bima Arya Berencana Pembukaan Sekolah Tatap Muka, Di Masa Pandemi  Covid-19, 11 Januari 2021.

loading...

BRO. Wakil Wali kota Bogor Dedie A.Rachim menyatakan kurang sepakat dengan Wali Kota Bima Arya, yang merencanakan sekolah tatap muka di Kota Bogor, dimulai pada 11 Januari 2021.

” Seharusnya pemberlakuan sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19 ini memerlukan pembahasan komprehensif,” kata Dedie A.Rachim yang juga Wakil Ketua Satgas Covid-19 Kota Bogor.

Menurutnya sekolah tatap muka ini seharusnya ada pembicaraan yang lebih teknis terkait kondisi kasus positif Covid-19 di kota Bogor.

“Dua hari terakhir ini kasus positif Covid-19 mengalami peningkatan tajam, bahkan mencapai rekor,” kata Dedie di Bogor, Senin (23/11).

Baca Juga :Waspadai, Dalam Sehari 42 Orang Dilaporkan Terinfeksi Covid-19 Di Kota Bogor.

Pihaknya menyayangkan pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di tengah lonjakan tajam, malah menyarankan pemerintah daerah untuk membuka sekolah.

” Saya melihat itu apakah sudah diperhitungkan dengan matang. Apa dipertimbangkan hal-hal seperti itu,” ungkap Dedie.

Olehkarenanya dalam menerapkan sekolah tatap muka, Pemkot Bogor sendiri tidak perlu tergesa-gesa dan gegabah.

Membuka sekolah di pandemi Covid-19, menurutnya sangat memerlukan satu kegiatan yang komprehensif.Artinya konsepnya betul betul matang termasuk usulan atau izin dari orang tua siswa dan melibatkan komite sekolah.

Baca Juga :Panitia Anugerah PWI Kota Bogor 2020 Terima Usulan Dari Masyarakat , Untuk Calon Penerima Anugerah Sebagai Pejuang Pandemi Covid-19

Kemudian, lanjut Dedie, pihak orang tua siswa melalui komite sekolah harus berkirim surat kepada sekolah.Tahapan berikutnya sekolah berkirim surat kepada Kota Bogor.

Dibagian lain , terkait kesiapan penyediaan sarana prasarana pencegahan Covid-19 di sekolah.

“Apakah sekolah memiliki tempat untuk mencuci tangan seperti wastfel, thermogun, handsanitizer, dan lain-lain,” katanya.

Bahkan, dalam pengaturan kapasitas ruang kelas dengan jumlah siswa yang di atur menggunakan sistem shift.

“Dalam satu kelas sekitar 40-50 orang, apa harus masuk dalam satu kelas ? Bahkan apakah sekolah memiliki akses ke fasilitas kesehatan dan metode pembelajarannnya seperti apa,” ungkapya

Selain itu, Dedie, juga menanyakan pengaturan tentang sistem transportasi yang mengantar siswa dari rumah ke sekolah.

Baca Juga :Pemkot Bogor Matangkan Kebijakan Pengurangan Kantong Plastik Di Pasar Tradisional

“Kalau dari rumah naik kendaraan umum, kan itu harus terdata dengan baik, itulah makanya janganlah kita terburu buru, sebelum urusan vaksin selesai,” katanya.

Maka dari itu, ungkap Dedie, pembelajaran tatap muka di sekolah itu harus sinkron dengan rencana besar pemerintah dalam memberikan vaksin.

” Jadi jangan gegabah, harus ada tahapan, sementara Indonesia dalam posisi tertinggi penambahan kasus positif Covid-19,” pungkasnya.

Sebelumnya Wali Kota Bogor Bima Arya mengumumkan Pemkot Bogor akan membuka sekolah tatap muka di masa pandemi  Covid-19, pada 11 Januari 2021.

Menurut Bima Arya, belajar tatap muka di sekolah itu dilakukan bila simulasi vaksin Covid-19 belum bisa digelar pada Desember 2020 ini. Nantinya semua pendidik paling diprioritaskan untuk menerima vaksin.

“Maka secara bertahap tenaga pendidik akan diatur untuk dilakukan tes swab,” kata Bima Arya.

Untuk sistem sekolah tatap muka ini, jelas Bima Arya akan dilakukan dengan metode hybrid. Artinya memadukan antara kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka dengan belajar daring.

“Namun bila kasus penyebaran Covid-19 ternyata bertambah setelah diberlakukan sekolah tatap muka ini. Maka akan dilakukan peninjauan ulang,” katanya

Olehkarenanya, pihak sekolah wajib menyampaikan proposal terkait mekanisme protokol kesehatannya seperti apa.

Dalam sekolah tatap muka nanti, Bima Arya menekankan syarat yang paling utama adalah mendapatkan izin dari komite atau orangtua murid.

” Siswa yang tidak diizinkan untuk tatap muka, pihak sekolah harus mengizinkan untuk tidak mengikuti tatap muka” jelas Bima Arya.

Untuk diketahui di Kota Bogor hingga saat ini Senin (23 /11), kasus positif Covid-19 sudah tembus angka 3.018 orang, dengan rincian masih sakit 470 orang, sembuh 2.457 orang dan meninggal 91 orang.

Penulis :  Azwar Lazuardy
Editor   :  Ari. U Surbakti

loading...
Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close