FeatureBisnis

Belanja Daring Perlu Berhati-hati dan Konsumen Jangan Panik

loading...

BRO, Perenggangan sosial ketika masa pandemi menyebabkan perpindahan tren jual beli ke ranah daring. Melalui belanja daring, konsumen tidak perlu ke luar rumah dan dapat mengurangi kerumunan. Meskipun dimudahkan, namun belanja daring tidak selalu berjalan baik. Sehingga, konsumen juga perlu memahami praktik belanja daring dengan baik.

Dekan Fema IPB University Prof Ujang Sumarwan mengungkapkan  bahwa terjadi perubahan pola perilaku konsumen. Kebiasaan hidup sehat akan lebih ditingkatkan selama masa pendemi dan pascapandemi. Selain itu konsumen banyak beralih berbelanja secara daring.

“Mobilitas konsumen mengalami penurunan di tempat belanja dan pusat perdagangan. Selain itu masyarakat juga mengurangi penggunaan transportasi publik. Hal ini kemungkinan hanya akan terjadi selama masa pandemi, setelah kembali normal perilaku yang mungkin tetap dijaga adalah perilaku hidup bersih dan sehat,” tambah Prof Ujang melalui siaran pers kepada Si Bro pada Senin (15/6/2020).

Sementara itu, Rofi Udarojat dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (Idea) menyatakan  pentingnya perlindungan konsumen saat bertransaksi secara digital. Sebelum membeli sesuatu di internet, cek dahulu kredibilitas toko, seperti ulasan dan rating tokonya. Selain itu penting untuk membandingkan harga produk untuk mendapatkan produk dengan harga terjangkau.

” konsumen juga wajib menyimpan bukti transaksi, sebagai upaya pengamanan saat barang yang dibeli tidak sesuai dengan pesanan. Selain itu juga pahami kebijakan dari platform marketplacea , agar konsumen bisa dengan mudah menemukan solusi saat terjadi masalah dalam proses transaksi,” kata Rofi.

Sedangkan , Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) yang pakar di bidang ilmu konsumen Dr. Megawati Simanjuntak menyampaikan bahwa terjadi tren negatif dari sisi ekonomi keluarga pada masa pandemi. Menurutnya sebanyak 58.3 persen masyarakat mengalami penurunan pendapatan. Namun di sisi lain, terjadi peningkatan pengeluaran  masyarakat sebanyak 55.2 persen.

“Peningkatan pengeluaran masyarakat terutama untuk perlengkapan kesehatan, biaya pulsa/internet dan bahan pangan pokok. Hal menarik lainnya adalah terjadinya penurunan frekuensi belanja menjadi lebih jarang. Yang terbanyak 2 hingga 3 kali seminggu,” ungkap Dr Megawati Simanjuntak dalam kegiatan Family Talk Series 3, yang diselenggarakan oleh Departemen IKK IPB University.

Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan konsumen selama berbelanja. Pertama adalah selalu terapkan protokol kesehatan dan membeli barang sesuai dengan kebutuhan. Hindari panic buying dan batasi belanja online. Selanjutnya adalah manfaatkan potensi sumberdaya untuk penghematan, seperti menanam tanaman kebutuhan dapur di pekarangan rumah.

Kegiatan yang dihadiri oleh 525 peserta ini dilakukan melalui aplikasi Webex. Ir MD Djamaludin, MSc selaku moderator menjelaskan kegiatan ini merupakan seri ketiga yang fokus pada isu konsumen. Selanjutnya akan diadakan lanjutan dengan topik arah kebijakan pemulihan keluarga di masa pandemi.

Penulis : Red Si Bro
Editor   : Robby Firliandoko

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close