Feature

Kisah Tenaga Medis Memegang Virus Corona Setiap Hari dan Gugurnya 22 Perawat

Mereka di Garis Depan dalam Perang Melawan Covid-19

loading...

BRO.  Petugas medis, baik dokter maupun perawat,  selama pandemi  Covid-19 adalah pejuang di garis terdepan dalam perang melawan virus corona. Tidak semua menghargai resiko serta para pahlawan kesehatan ini.

Selain paling rentan terpapar virus, mereka pun harus merelakan banyak hal dalam kehidupannya. Dokter dan perawat harus rela jauh dari lingkungan sosialnya.  Mereka pun jarang bersua apalagi berkumpul dengan sanak keluarganya.

Para tenaga medis juga merupakan orang yang paling rentan terpapar Covid-19. Misalnya saja tenaga medis yang bekerja di laboratorium. Ia harus berhadapan dengan virus corona minimal 6 jam setiap hari.  Pengorbanan yang terkecil, misalnya saja penggunaan alat pelindung diri (APB).

Baca juga : Ratusan Tenaga Medis dan 16 ODP di Kota Bogor Jalani Rapid Test Covid-19

Bisa dipastikan enggak bakal ada orang yang merasa nyaman ketika badanya memakai balutan tebal APD. Ruang  gerak mereka amat kecil. Mereka kesulitan untuk minum, makan, dan ke toilet ketika bekerja. Sementara, banyak warga yang enggan memakai masker dengan alasan kesulitan bernafas. Apalagi memakai baju Hazmat saban hari.

Kisah pengorbanan petugas medis di Lab Corona ini diungkapkan Juru Bicara Pemerintah Khusus untuk Covid-19, Achmad Yurianto. Ia mengunjungi Balai Besar Tekonologi Kesehatan Lingkungan di Jakarta.  Balai ini merupakan salah satu lab yang ditugaskan untuk menguji Covid-19  dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR).

“(Mereka) Harus berhadapan langsung dengan virus selama 6 jam. Mereka menahan keinginan untuk ke kamar kecil, menahan keinginan untuk minum, untuk makan, dan seterusnya nonstop,” kata Yuri di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Senin (25/5/2020).

Baca juga : Ade Yasin akan Resmikan RS Pusat Isolasi Covid-19 di Kemang

Yuri menyampaikan hormat dan terima kasih atas atas dedikasi petugas medis ari Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia. Karena mereka memiliki peran yang luar biasa dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Ini yang harus kita apresiasi dan kita yakini mereka adalah pekerja yang profesional, yang tidak mengenal hari libur. Mereka yang terus melayani kita semuanya,”  ucap Yuri.

Menyaksikan pengorbanan para petugas medis selama penanggulangan corona,  Yuri mengimbau masyarakat untuk terus memperbaiki perilaku, mengubah pandangan dan menjaga diri, serta selalu mematuhi aturan dari pemerintah untuk selalu menegakkan protokol kesehatan.

Baca juga : Hasil Swab Test 26 Nakes RSUD Bogor Negatif Corona, Kadinkes: Sisanya Belum Keluar

“Sebab, hanya itu yang dapat menjadi cara untuk memutus rantai penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, sekaligus meringankan beban para tenaga kesehatan.  Mari kita betul-betul mampu mengubah diri, menjaga diri, agar kasus tidak semakin banyak,” imbuh Yuri.

Yuri  juga menyaksikan langsung bagaimana tenaga kesehatan di rumah sakit-rumah sakit yang bekerja tanpa mengenal lelah. Disebutkan, perang melawan Covid-19 ini tidak hanya merenggut banyak nyawa masyarakat, namun tak sedikit petugas medis yang wafat karena Virus Corona.

Duka Keluarga Perawat
Duka menyelimuti keluarga besar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Organisasi perawat ini mencatat sudah 22 perawat Indonesia yang gugur selama perang melawan Virus Corona.  Teranyar adalah Nanang Suyono yang merupakan perawat Alnafisi Sabah Dialisys Kuwait. Ia meninggal pada Senin (25/5/2020). Kabar tersebut disampaikan Pengurus PPNI melalui akun media sosial Instagram @PPNI.

Ucapan duka Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) atas gugurnya para perawat selama perang melawan Virus Corona. Foto : Net

“Sudah ada 22 perawat yang meninggal dunia selama pandemi Corona. Tapi yang Kuwait ini memang bekerja di sana,” Pengurus PPNI dalam akun Instagram @PPNI, Senin (25/5/2020) mengungkapkan. “Turut berduka sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhum dan almarhumah.”

Berikut daftar 22 perawat yang meninggal dunia berstatus positif atau pasien dalam pengawasan (PDP) Corona berdasarkan informasi dari PPNI:

1. Ninuk Dwi SKep, (RS Cipto Mangunkusumo)
2. Sugiharto, Amd, Kep, (RSPAD Gatot Subroto)
3. Harmoko, SKepNs, SH, MH (Kes) (PKM Tambak Aji)
4. Letkol (kowal) Mulatsih WA, AMK, SH, (RS Marinir Cilandak)
5. Setia Aribowo, Amd, Kep, (RS Premier Bintaro)
6. Mursyida, Amd, Kep, (PKM Kp Teleng Sawahlunto)
7. Zaenal Khalib SKep, Ns, (PKM Semanding)
8. Adharul Anam SKep, (RS Mitra Kelapa Gading)
9. Nuria Kurniasih, AMK, (RSUP DR Kariadi)
10. Nur Putri Julianty, AMK, (RS Andhika)
11. Elok Widyaningsih, Skep, (RS Eka Hospital BSD)
12. Novera, Amd, Kep, (RSPAD Gatot Subroto)
13. Hastuti Yulistiorini, Amd, Kep, (RS Siloam Surabaya)
14. Rina Iswati Wuryaning Wulan, SKep, (RSUP Dr Kariadi)
15. Reno Tri Palupi, Amk, (RSUD Pasar Rebo)
16. Shelly Ziendia Putri (AGD Dinkes Pemprov DKI Jakarta)
17. Agus Indarto, Amd, Kep, (RS D. Oen Solo Baru)
18. Heri Soesilo, (RSPI Sulianti Saroso)
19. Nani Suhartini, AMK (RS Sukmul Sisma Medika)
20. Ari Puspita Sari, SKep NS, (RS Royal)
21. Suhartatik, Amd, Kep, (RSUD dr M Soewandhie)
22. Nanang Suyono (Perawat Alnafisi Sabah Dialisys Kuwait)
(Sumber : Detik. Com)

Penulis : Raskita Raya
Editor  : Arie Surbakti

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close