Feature

Perlunya Pemimpin Lokal

Lawan Korona di Tingkat Akar

loading...

Tulisan ini semakin teringat dan saya ingin tulis di tengah pandemi ini. Awalnya, tulisan ini selalu hadir di benak saya ketika pemuda seharusnya memulai berkontribusi dari sektor rumah dan lingkungannya dulu. Dan ilmu ini saya dapatkan dari Guru saya, Kang Opih dan Kang Uut.

 

Bagi saya ini menarik. Pada saat saya memulai dengan pergerakan skala nasional di Nusantara Muda, saya diperkenalkan gerakan membangun di daerah masing-masing. Sesuai Petuah dari Bung Hatta yang mengatakan bila ingin membangun Indonesia, bangunlah dari daerah. Karena lilin-lilin kecil di daerah justru akan menyalakan negeri ini. Oleh karena itu saya coba bangun Bogor Ngariung.

 

Pada saat belajar di Bogor, tepatnya di Kalam. Saya malah diracuni untuk membangun di wilayah rumah. Saya berpikr dan berpikir. Koq aneh ya. Pada saat biasanya dari sektor kecil ke besar. Yang saya alami malah dari besar ke kecil. Tapi benar juga. Untuk apa melakukan hal besar di luar, bahkan dikenal di mana-mana, tapi di lingkungan sendiri tidak berbuat apa-apa. Dan tidak kenal pula dengan tetangga. Bahkan, saya pernah belajar dari seorang guru saya juga, Kang Gaw Sekolah Relawan yang mengatakan bahwa jangan mengaku relawan kalau sama tetangga saja tidak kenal.

 

Walhasil, racun-racun itu yang mendorong saya untuk kembali berkiprah di rumah. Alhamdulillah, sejak 2014 saya coba memulai setelah pulang belajar dari Semarang dan kota-kota lainnya. Saya coba mulai kembali bertemu dengan teman kecil, ikut panitia 17-an, ikut Karang Taruna dan juga kegiatan-kegiatan di Masjid. Bahkan, sesekali juga saya coba ajak anak-anak kecil di sini untuk mengurangi berkata kotor, membuat biopori dan bermain sambil belajar.

 

Dan ternyata, berkontribusi di lingkungan rumah itu sensasinya manis asam asin. Huuuuu. Seru jugaaa. Dan inilah yang benar-benar masyarakat kalau menurut saya. Ada yang begitu dan begini, dan mereka tidak akan peduli dengan gelar kuliah kamu bahkan apa prestasimu di luar sana. Tapi kuncinya adalah Komunikasi dan Kepercayaan.

 

Berbekal pendekatan dan mengenal karakter warga, serta juga memetakan para Tokoh Masyarakat yang mau bergerak dan juga yang hanya ide. Hehee. Ada.

 

Dan ternyata, perlunya pemimpin tingkat lokal di RT RW dan juga kehadiran muda-mudi di tingkat lokal sangat terasa saat pandemi ini. Kita sama-sama tahu bahwa cara pencegahan virus korona ada pada diri kita sendiri. Dari mulai menjaga kebersihan, melakukan perenggangan sosial hingga menggunakan masker. Bahkan, kalau untuk tingkat lokal itu harus diperkuat dengan menjaga kebersihan lingkungan dengan penyemprotan.

 

Ada Ketua RT RW yang responsif dan mengajak warganya untuk #SalingJaga, adapula yang mungkin bingung harus berbuat apa atau bahkan sibuk dengan pekerjaan atau bisnisnya. Dan, menariknya lagi. Teman-teman perlu tahu bahwa pemilihan Ketua RT RW itu bukan hanya yang memiliki kriteria dan layak, tetapi ada pula yang seolah dijadikan tumbal. Karena jabatan RT RW dinilai tidak prestis, tidak digaji, bahkan ada sedikit yang hanya dijadikan kambing hitam atau disalah-salahin aja sama warganya. Kasihan.

 

Pengalaman ini benar-benar saya rasakan. Dan di tengah Pandemi ini. Karena saya tahu informasi tentang Kampung Siaga Covid-19 dari Bogor Rise Against Corona dan Sekolah Relawan. Akhirnya saya coba lagi bergerak setelah masa ODP saya selesai. Saya ajak kawan-kawan saya yang memang selalu jadi Panitia di sini dan kita coba bergerak.

 

Ternyata, efek korona ini bukan hanya kematian dan kepanikan. Tapi juga ada masalah lain, dari mulai perekonomian hinggan pangan. Oleh karena itu, dua hal itu yang coba kami lakukan.

 

Kami coba dengan mendata warga yang terdampak akibat pandemi ini, dan pondasi dapur menjadi isu utama. Ternyata ada beberapa warga kami yang kesulitan. Alhamdulillahnya, berkat membangun hubungan di sini sejak 6 tahun lalu, warga di sini, khususnya yang berduit percaya dengan kami. Dan percaya atau tidak, membangun kepercayaan warga itu tidak mudah, apalagi pada saat sulit seperti ini. Alhamdulillahnya, saya belajar ilmu Komunikasi Pembangunan di IPB.

 

Kegiatan demi kegiatan, bantuan demi bantuan, sumbangan demi sumbangan kami lakukan. Laporan juga selalu kami berikan. Alhamdulillah. Kegiatan yang sifatnya membantu pondasi dapur warga bisa berjalan di sini dan saat ini sudah masuk ke pedataan dan pendanaan gelombang kedua.

 

Selain itu, kami juga membagikan masker kepada lansia. Di lingkungan saya ini ada banyak sekali pensiunan dan lansia. Ayah saya juga akan pensiun pada tahun ini. Namun, ironinya, ada beberapa Lansia yang tidak menggunakan masker saat ke luar rumah. Dan ternyata mereka ga punya. Sedih. Akhirnya, dana bantuan yang kami peroleh kami belikan masker. Dan alhamdulillahnya, ada warga kami yang bisa menjahit. Jadi konsep dari warga untuk warga kami coba terapkan.

Kemudian, kami juga mencoba memikirkan tentang penyemprotan. Ketika ide ini muncul. Warga beserta jajaran pengurus RT RW sudah melakukan penyemprotan dengan alat yang ada dan menurut saya tergolong ribet. Dan alhamdulillah, kami dapat bantuan alat dan cairan disinfektan dari Yayasan Gosali dan dari MALVA x TiraNyx. Dengan alat ini, kami coba melakukan penyemprotan berkala.

Dan saat ini, kami sedang mendorong Jajaran Pengurus RT RW untuk melakukan karantina wilayah dan mempersiapkan lumbung pangan. Mohon doanya, semoga bisa direalisasikan dengan baik.

 

Kuncinya penyelesaian masalah ini adalah di struktur masyakat paling bawah. Dari mulai lingkungan bahkan dari rumah. Kita semua perlu sadar untuk menjaga diri, menjaga lingkungan dan saling bahu-membahu. Dan bagi saya, virus korona ini merupakan ujian untuk keimanan, kebersamaan dan kepemimpinan.

 

Jadi, kamu mau #dirumahaja atau jadi Pejuang di lingkunganmu. Jadi, kamu mau egois saja atau berkontribusi?

 

Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau ga sekarang, kapan lagi?

 

Salam Ngariung,
Salam Perubahan.

 

Penulis: Robby Firliandoko

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close