Komunitas

Rangkong Indonesia Raih Anugerah Whitley Awards

loading...

BRO, Rangkong Indonesia, yang merupakan unit Penelitian dan Konservasi Terestrial dari Rekam Nusantara Foundation yang fokus kegiatannya untuk penelitian dan konservasi Burung Rangkong di Indonesia meraih Whitley Awards 2020, atau yang dikenal juga sebagai “Green Oscar”. Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa terpilih atas program  Saving The Last Stronghold of The Helmeted Hornbill atau Penjaga Rangkong Gading.

Direktur Eksekutif Rekam Nusantara Foundation Een Irawan Putra menyampaikan bahwa penghargaan ini memberikan semangat dan optimisme atas kinerja timnya di tengah-tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

“Banyak kegiatan dan aktivitas kami yang ditunda dan dibatalkan akibat adanya Covid-19. Semoga persebaran virus ini segera berakhir dan kami bisa kembali beraktivitas bersama masyarakat dan mitra untuk melanjutkan kampanye dan edukasi untuk pelestarian sumber daya alam Indonesia”, kata Een kepada Si Bro di Bogor, Minggu (3/5/2020).

Meski tahun ini seremoni Whitley Award 2020 harus ditunda akibat pandemi Covid-19, pengumuman pemenang tetap dilakukan secara daring melalui laman resmi www.whitleyaward.org.

Dan para pemenang tetap menerima dana hibah senilai 40,000 Poundsterling. Melalui Rangkong Indonesia dana tersebut akan digunakan untuk melanjutkan penyelamatan spesies rangkong gading.

Yoki sendiri telah mendedikasikan penelitiannya dalam 20 tahun terakhir untuk konservasi rangkong gading di Indonesia.

Ironisnya, Rangkong Gading saat ini berstatus kritis. Burung bernama latin Rhinoplax vigil menjadi satwa primadona yang diburu dan dijual balungnya. Akibat perdagangan ilegal, rangkong gading terus  menghadapi ancaman kepunahan.

Indonesia merupakan habitat dan populasi terbesar Rangkong Gading di dunia, namun saat ini keberadaanya di alam sudah semakin langka, bahkan di beberapa tempat sudah punah. Hilangnya hutan sebagai habitat utama dan perburuan yang masif merupakan perpaduan mematikan terhadap keterancaman Rangkong Gading di Indonesia.

Kehilangan rangkong gading dan 12 jenis rangkong lainnya di Indonesia menjadikan kesehatan hutan di Indonesia akan terganggu, mengingat fungsi ekologisnya sebagai pemencar biji paling efektif.

Dalam penelitiannya, Yoki mengungkapkan bahwa perburuan yang dilakukan umumnya oleh masyarakat setempat merupakan keterpaksaan ekonomi jangka pendek, padahal keindahan dan kemegahan Rangkong Gading bisa memberikan potensi ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, melalui ekowisata dan pengamatan burung.

“Rangkong gading lebih berharga hidup daripada mati”.

Pada tahun 2017 Rangkong Indonesia mulai membangun kerja sama dengan masyarakat adat suku Iban di Dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.  Kegiatan di Sungai Utik dimulai dengan mengajak beberapa pemuda untuk mengamati keberadaan burung rangkong gading dan beberapa jenis rangkong lainnya di hutan adat mereka yang luasnya sekitar 9.000 ha.

Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan membekali keterampilan, pengetahuan serta mendorong pelestarian berbasis ekowisata yakni pengamatan rangkong dan habitat sarangnya. Sehingga keberadaan rangkong gading justru dirasa lebih berharga ketika hidup daripada mati.

Kemudian sejak tahun 2018, dengan dukungan Yayasan KEHATI – TFCA Kalimantan Yoki bersama tim Rangkong Indonesia melakukan survey populasi dan okupansi serta merekam kondisi terkini rangkong gading di beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Untuk memperluas diseminasi informasi, tim Rangkong Indonesia juga melakukan kampanye edukasi kepada publik.

“Penghargaan ini sejatinya ditujukan kepada masyarakat yang tinggal berdampingan bersama rangkong gading dan rangkong lainnya di Kalimantan. Saya bersama Rangkong Indonesia hanya berfungsi sebagai medium untuk membantu perubahan kondisi Rangkong Gading di alam bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Sejatinya pelindung sejati rangkong gading adalah masyarakat,” ungkap Yoki.

Rekam Nusantara Foundation sendri bergerak pada edukasi publik dalam bidang konservasi lingkungan dan alam. Serta keberagaman adat dan budaya Indonesia. Baik melalui produksi seri film dokumenter, data riset, kampanye, advokasi dan pelatihan pembuatan film dokumenter. Informasi lengkap bisa dilihat di www.rekam.org.

Penulis : Robby Firliandoko
Editor   : Arie Surbakti

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close