Nusaraya

Terlalu Prematur Kalau Pertumbuhan Covid-19 di Kota Depok Melandai

Wabah Corona

loading...

BRO, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, Alif Noeriyanto menilai tren kasus Covid-19 di Depok, Jawa Barat, terlalu prematur jika disebut melandai.

Hal itu menyikapi pengumuman Wali Kota Depok Mohammad Idris bahwa pada PSBB tahap II, rata-rata pertambahan kasus Covid-19 per hari berkurang ketimbang saat PSBB tahap I maupun sebelum PSBB.

Menurut Alif, berkurangnya pertambahan harian itu bisa jadi hanya tren sementara.

“Menurun bisa karena memang menurun, tapi juga bisa karena pemeriksaan belum banyak, sehingga hasilnya masih segitu-segitu saja,” katanya, Jumat (15/5/2020).

Alif menjelaskan, kalau dipantau beberapa RS di Kota Depok memang mengalami penurunan okupansi pasien. “Tapi, tidak bisa dilihat begitu saja. Bisa karena sekarang banyak rumah sakit yang handle, jadi sudah tidak sepadat dulu. Menurut kami, ini masih fluktuatif,” imbuhnya.

Oleh karena pihaknya menyarankan Pemkot Depok untuk perbanyak melakukan pemeriksaan terhadap warganya.

“Idealnya, pemeriksaan dilakukan terhadap 10 persen jumlah penduduk. Itu berarti, ada sekitar 240.000 warga Depok yang harus dites,” imbuhnya.

Namun, masalahnya hingga saat ini, Kota Depok masih mengandalkan satu-satunya laboratorium rujukan pemeriksaan Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

“Sampai sekarang, baru laboratorium RSUI yang telah ditetapkan pemerintah sebagai laboratorium rujukan resmi pemeriksaan Covid-19 berbasis PCR,” tuturnya.

Beberapa rumah sakit lain sebetulnya sudah memiliki mesin PCR, namun hingga sekarang masih dalam proses perizinan.

“Progresnya akan membaik karena kita akan punya sedikitnya 5 mesin PCR yang masuk ke sistem Gugus Tugas. RS Brimob 2, RSUI 1, dan Labkesda 2. Yang di RS Brimob sudah datang tapi belum ditetapkan karena masih izin provinsi segala macam. Kalau yang di Labkesda tinggal menunggu alatnya datang,” jelas Alif.

“Di RS Arafik, Citra Medika Cisalak juga sudah ada tapi belum ditetapkan juga. Kalau mau jumlah total, kita bisa punya 8 mesin PCR ditambah RSUD Kota Depok,” tambah dia.

Seandainya seluruh potensi pemeriksaan laboratorium berbasis PCR di Depok dikerahkan, jumlah kasus Covid-19 justru diprediksi naik.

Angka kasus bisa semakin besar karena akan ada banyak tambahan kasus baru dalam waktu singkat — kasus-kasus yang selama ini lama terdeteksi karena minimnya kapasitas tes.

Data terbaru per Kamis (14/5/2020), Kota Depok mencatat 369 warganya positif Covid-19, 67 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan 21 orang lainnya meninggal dunia.

Angka kematian tersebut belum menghitung 66 kematian suspect/pasien dalam pengawasan (PDP) yang tak kunjung dikonfirmasi Kementerian Kesehatan RI sejak medio Maret 2020.

Penulis: Redaksi si Bro

Editor: Adi Kurniawan

loading...
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close