Dedie Rachim Tinjau Pemilahan Sampah di Situgede, Targetkan Pengurangan Sampah ke TPA

BRO. KOTA BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memperkuat program pemilahan sampah dari sumber sebagai langkah konkret menekan volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus memperbaiki kualitas udara.

Upaya ini terlihat di RW 10, Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat. Warga bersama Dietplastik Indonesia, relawan, dan perangkat wilayah menjalankan program pemilahan sampah berbasis rumah tangga menuju kawasan bebas sampah.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, meninjau langsung kegiatan tersebut pada Jumat (24/4/2026). Ia menegaskan, pemilahan sampah dari hulu menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah terpadu di Kota Bogor.

“Ini menjadi pembelajaran bagi warga agar memilah sampah lebih efektif. Ke depan kita akan membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), namun sampah harus sudah terpisah. Sampah residu seperti popok dan pembalut akan diolah, sementara yang masih bernilai bisa dimanfaatkan,” ujar Dedie.

Dedie juga mengapresiasi peran Dietplastik Indonesia, relawan, dan masyarakat yang terlibat aktif. Ia mengajak semua pihak untuk konsisten dan tidak menyerah dalam mengatasi persoalan sampah.

Pemkot Bogor, kata Dedie, berkomitmen menangani sampah dari hulu hingga hilir. Selain mendorong pemilahan di tingkat rumah tangga, pemerintah juga menyiapkan pengolahan akhir melalui teknologi PSEL.

“Pembangunan PSEL membutuhkan sistem pemilahan yang kuat dari masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara warga, RT, RW, lurah, camat, hingga lembaga masyarakat sangat penting,” ujarnya.

Program yang diinisiasi Dietplastik Indonesia ini merupakan bagian dari upaya mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah rumah tangga melalui inisiatif FIREFLIES.

Sejak dimulai pada Desember 2025, program ini telah menjangkau 150 rumah di RW 10. Warga dibekali fasilitas pemisahan sampah organik dan nonorganik serta edukasi berkelanjutan.

Penanggung jawab program Dietplastik Indonesia, Farhan, menjelaskan bahwa pemilahan dari sumber menjadi solusi utama menghentikan kebiasaan membakar sampah.

“Sampah harus dipilah sejak dari rumah. Sampah organik bisa diolah dengan maggot, biodigester, atau kompos. Sementara sampah nonorganik bernilai bisa didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan, hanya sampah residu yang nantinya dibuang ke TPA oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Dalam pelaksanaannya, program ini juga didukung tiga riset, yakni riset antropologi sosial bersama peneliti Universitas Indonesia, riset komposisi sampah (WACS), serta pemantauan kualitas udara.

“Kami juga mengembangkan sensor untuk mendeteksi kualitas udara akibat pembakaran sampah. Saat ini masih dalam tahap kalibrasi dan segera dioperasikan,” kata Farhan.

Editor : Adjet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses