Drama Kolosal “Pajajaran Gugat” Tutup Hari Tatar Sunda, Pesan Harmoni Alam Menggema dari Gedung Sate

BRO. BANDUNG – Rangkaian Hari Tatar Sunda 2026 ditutup dengan pertunjukan drama kolosal bertajuk Pajajaran Gugat di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu (17/5/2026). Pagelaran budaya yang sarat nilai sejarah dan filosofi Sunda itu sukses menyita perhatian ribuan penonton dan tamu undangan yang hadir sejak sore hingga malam hari.

Dari Kota Bogor, hadir Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, bersama sejumlah camat, lurah, dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menyaksikan langsung pertunjukan budaya tersebut.

Selama lebih dari empat jam, penonton dibuat larut dalam suasana teatrikal yang disutradarai budayawan Sudjiwo Tejo.

Dengan balutan seni pertunjukan, musik tradisional, dan narasi budaya Sunda yang kuat, Pajajaran Gugat menghadirkan kisah kejayaan dan “hirup kumbuh” masa Pajajaran dalam kemasan modern namun tetap sarat makna.

Sorotan utama pertunjukan bukan hanya pada kemegahan panggung, tetapi juga pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan drama kolosal tersebut menjadi simbol lahirnya semangat baru masyarakat Sunda dalam menghadapi masa depan tanpa meninggalkan akar budaya.

Menurutnya, hadirnya “Pajajaran Anyar” harus dimaknai sebagai kebangkitan cara pandang baru yang tetap berpijak pada filosofi kesundaan dan harmoni dengan alam semesta.

“Menggambarkan hubungan harmonis antara jagat besar dan jagat alit, kesatuan manusia dengan alam semesta. Dalam pandangan Sunda, manusia tidak diajarkan untuk hidup berlebihan maupun eksploitatif terhadap lingkungan,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menegaskan, nilai kesundaan tidak berhenti pada seremoni atau pagelaran seni semata. Lebih jauh, budaya Sunda harus menjadi energi moral dan spiritual dalam membangun masa depan masyarakat Jawa Barat.

“Pagelaran hanyalah simbol. Yang utama adalah menghadirkan kembali energi masa lalu untuk masa depan,” katanya.

Dalam suasana malam yang penuh nuansa budaya, tepuk tangan penonton beberapa kali menggema saat adegan-adegan heroik dan reflektif ditampilkan di atas panggung. Pertunjukan itu sekaligus menjadi penutup emosional rangkaian Hari Tatar Sunda 2026.

Dedi Mulyadi juga menekankan bahwa setiap kebijakan pemerintahan harus belajar dari sejarah dan nilai luhur budaya agar pembangunan tidak kehilangan arah.

“Sunda bukan watak etnis atau geografis. Sunda merupakan watak ideologis, filosofis, historis, dan sosiologis,” pungkasnya.

Editor ; Adjet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses