BRO. BOGOR – Di tengah sorotan publik terkait keterlibatan perguruan tinggi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), IPB University menegaskan posisinya sebagai Center of Excellence (CoE) atau Pusat Unggulan Nasional untuk mendukung keberhasilan program tersebut.
CoE MBG merupakan hasil kolaborasi multipihak antara IPB University, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Badan Gizi Nasional, dan UNICEF. Melalui peran ini, IPB University siap membangun ekosistem pangan yang kuat dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi mengatakan, kampus akan menggandeng berbagai pihak seperti BUMDes, koperasi, hingga kelompok tani dalam pengembangan sistem penyediaan pangan untuk MBG.
“IPB University juga akan mengembangkan model dapur berbasis karakteristik lokal, memperkaya menu gizi MBG, serta menghadirkan berbagai inovasi bersama stakeholder terkait,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan CoE bertujuan memastikan program MBG berjalan efektif, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dr Alfian Helmi menegaskan, keterlibatan IPB University didorong oleh masih banyaknya persoalan dalam tata kelola MBG secara nasional, terutama pada aspek pengawasan, kualitas gizi, hingga rantai pasok pangan.
“Dari ribuan SPPG yang terdaftar di Badan Gizi Nasional, belum semuanya memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Belum lagi persoalan konsistensi mutu gizi, ketergantungan pada rantai pasok yang rapuh, minimnya pengawasan berbasis data, dan lemahnya pemberdayaan komunitas lokal sebagai pemasok,” jelasnya.
Ia menilai, program besar seperti MBG membutuhkan penguatan fondasi agar dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Program besar ini sedang berlari, tapi fondasinya masih perlu diperkuat. Di sinilah IPB University merasa terpanggil untuk memberikan kepedulian terhadap persoalan bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, sebagai kampus dengan kekuatan riset pangan dan agribisnis, IPB University tidak ingin hanya menjadi penonton dalam program strategis nasional tersebut.
“Kalau kampus dengan kapasitas riset pangan dan agribisnis seperti IPB University hanya jadi penonton, rasanya ada yang tidak beres,” katanya.
Melalui keterlibatan langsung dalam MBG, berbagai inovasi hasil riset IPB University kini memiliki ruang implementasi nyata di masyarakat.
“Varietas pangan lokal unggulan, formula menu berbasis kebutuhan gizi spesifik, teknologi pengolahan pangan sederhana yang efisien, hingga sistem pemantauan mutu berbasis data kini bisa diterapkan langsung,” ungkapnya.
IPB University juga meluruskan terkait pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dr Alfian Helmi menegaskan, pembangunan dan pengelolaan SPPG tidak dilakukan langsung oleh IPB University, melainkan oleh PT BLST sebagai holding company milik IPB melalui yayasan berbadan hukum yang dikelola secara profesional.
“Struktur tata kelola dan mandat akademik kampus tetap terjaga dan terpisah dari operasional bisnis,” jelasnya.
Direktur PT BLST, Luhur Budijarso mengatakan, pihaknya menargetkan SPPG yang dikelola dapat menjadi model nasional dalam mendukung keberhasilan program MBG.
“Bukan hanya soal dapurnya, tapi bagaimana model ini dapat direplikasi secara nasional serta mendukung keberhasilan program pemerintah,” ujarnya.
PT BLST saat ini menyiapkan dua dapur MBG di Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Sukajaya. Salah satu dapur disebut sudah siap beroperasi dengan target melayani ribuan penerima manfaat di wilayah sekitar.
Menurut Luhur, pendekatan yang diterapkan berbeda karena tidak hanya membangun dapur, tetapi juga membangun ekosistem rantai pasok pangan berbasis masyarakat.
“Kami tidak hanya membangun dapur, kami membangun rantai pasoknya. Petani, peternak, hingga pengolah tahu-tempe dibina agar menjadi pemasok yang terstandar dan berkelanjutan,” tuturnya.
Ia menambahkan, proses pembinaan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa IPB melalui program pengabdian masyarakat sehingga implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi berjalan secara simultan.
“Penelitian menentukan standar gizinya, pendidikan melatih pelakunya, dan pengabdian masyarakat menjadi perekatnya. Ini yang kami sebut ekosistem terintegrasi,” katanya.
Dari sisi keamanan pangan, PT BLST memastikan seluruh proses produksi memenuhi prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal, di bawah pengawasan Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal IPB (LRI-PGKH).
“Audit internal dilakukan secara berkala dan hasilnya terbuka untuk verifikasi publik,” pungkasnya.
Editor : Adjet
