BRO. KOTA BOGOR – Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, terus berbenah dengan memperkuat pembangunan infrastruktur sekaligus mitigasi bencana.
Wilayah ini bahkan ditetapkan sebagai pilot project pemasangan alat deteksi bencana modern di Kota Bogor.
Letak geografis Panaragan yang diapit sungai dengan kontur tanah curam membuat kawasan ini rawan banjir dan longsor. Karena itu, langkah antisipasi berbasis teknologi menjadi prioritas.
Lurah Panaragan, Ima Ratnasari, mengatakan di RW 07 yang berbatasan langsung dengan Sungai Cisadane telah dipasang sistem Early Warning System (EWS) banjir. Sistem ini lebih canggih dibandingkan alat sebelumnya karena sudah terintegrasi dengan alarm otomatis.
“Dulu alatnya masih manual dan harus diaktifkan petugas. Sekarang, jika ketinggian air mencapai batas tertentu, alarm akan otomatis berbunyi,” ujarnya dalam kegiatan media gathering di Aula Kelurahan Panaragan, Rabu (6/5/2026).
Tak hanya itu, Panaragan juga menjadi wilayah pertama di Kota Bogor yang memasang alat deteksi dini longsor di RW 01. Pemasangan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan BPBD.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, simulasi evakuasi rutin juga dilakukan bersama warga guna meminimalkan risiko korban saat terjadi bencana.
Dengan jumlah penduduk mencapai 6.701 jiwa pada 2026, Panaragan terus berupaya menyeimbangkan pelayanan publik dengan penanganan persoalan wilayah yang kompleks.
Infrastruktur Digenjot, Program Gerobak Saepisan Diterapkan
Dalam periode 2025–2026, pembangunan fisik di Panaragan berlangsung cukup masif. Sejumlah proyek yang telah direalisasikan antara lain pemasangan paving block di RW 07, penggunaan beton dekoratif (stamped concrete) di jalan lingkungan, serta perbaikan kanstin di Jalan Veteran.
RW 02 juga ditetapkan sebagai lokasi program “Gerobak Saepisan” (Bogor Bebas Kumuh). Program ini mencakup tujuh indikator, mulai dari peningkatan sarana prasarana hingga pemberdayaan UMKM lokal.
“RW 02 menjadi fokus karena lokasinya diapit beberapa sungai, sehingga membutuhkan intervensi infrastruktur agar keluar dari kategori kumuh,” kata Ima.
Penataan PKL Jalan Veteran Masih Jadi Tantangan
Di tengah pembangunan yang berjalan positif, Kelurahan Panaragan masih menghadapi persoalan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Veteran. Aktivitas PKL pada sore hingga malam hari kerap memicu kemacetan dan mengganggu fungsi trotoar.
Pihak kelurahan bersama Kecamatan Bogor Tengah telah mengusulkan relokasi PKL ke Pasar Devris. Namun, kebijakan tersebut masih menjadi kewenangan Pemerintah Kota dan PD Pasar.
“Kami ingin ada solusi terbaik. Kendalanya, pedagang khawatir kehilangan pelanggan jika direlokasi. Namun, normalisasi trotoar tetap kami dorong,” tegasnya.
Bantuan Sosial Dipastikan Tepat Sasaran
Terkait penyaluran Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan bantuan sosial lainnya, pihak kelurahan memastikan telah melakukan verifikasi langsung ke lapangan.
Data penerima berasal dari pemerintah pusat berdasarkan kategori Desil 1 hingga 5, sementara kelurahan melakukan ground check untuk memastikan kelayakan penerima.
“Ini bentuk transparansi agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” jelas Ima.
Kawasan Bersejarah yang Terus Bertransformasi
Kelurahan Panaragan juga dikenal memiliki nilai sejarah tinggi, yang berakar dari pemukiman prajurit Mataram atau Warok Ponorogo pada tahun 1629. Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman perkotaan padat yang tetap menjaga nilai budaya lokal.
Dengan kombinasi pembangunan infrastruktur, teknologi mitigasi bencana, dan penataan sosial, Panaragan diarahkan menjadi kawasan perkotaan yang tangguh dan berkelanjutan.
Editor :Adjet
