“Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh beroperasi tanpa memenuhi standar kesehatan, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),”tegàs Dedie Rachim
BRO. KOTA BOGOR — Insiden keracunan massal siswa di Kota Bogor memicu reaksi keras Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Ia menegaskan bahwa dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh beroperasi tanpa memenuhi standar kesehatan, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Saya sangat prihatin. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Semua SPPG wajib mengantongi SLHS. SPPG yang menjadi sumber insiden ini SPPG baru dan memang belum punya SLHS,” tegas Dedie, Jumat (14/11).
Puluhan siswa dari SDN 2 Batutulis, SDN 3 Batutulis, SD Lawanggintung, dan sekolah PUI Kota Bogor jatuh sakit sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka mengalami mual, pusing, hingga muntah setelah menyantap menu MBG yang diproduksi dapur SPPG La Isola Batutulis.
Baca Juga : Puluhan Siswa SD di Kota Bogor Diduga Keracunan MBG, DPRD Desak Investigasi Total dan Evaluasi SPPG
Temuan awal mengungkap fakta mencengangkan: dapur SPPG tersebut belum memiliki SLHS, namun tetap beroperasi dan menyajikan makanan ke ratusan siswa. Padahal, sertifikat ini wajib sebagai jaminan higienitas dan keamanan pangan.

Dedie menegaskan bahwa SPPG itu semestinya baru mengikuti pelatihan pada hari berikutnya. Namun, operasional dilakukan lebih cepat tanpa izin dan tanpa memenuhi standar kebersihan.
Baca Juga : Sebanyak 20 Siswa SDN Batutulis Diduga Keracunan Usai Konsumsi Makanan MBG, Distribusi Dihentikan Sementara
“Ini kecerobohan. Anak-anak tidak boleh jadi korban hanya karena standar kesehatan diabaikan,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kota Bogor melaporkan 36 siswa mengalami gejala keracunan dan seluruhnya telah mendapat penanganan medis.
Insiden ini kembali menjadi alarm keras bagi pelaksanaan Program MBG. Pemerintah diminta memperketat pengawasan dan memastikan tak ada satu pun dapur SPPG yang beroperasi sebelum memenuhi standar higienitas dan keamanan pangan.
Editor : Adjet
