BRO. BEKASI – Sebanyak 200 mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jakarta III mengikuti Internship Mental Health 2026 untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Kegiatan ini membekali mahasiswa dengan kemampuan mengenali tekanan akademik, mengelola stres, mencegah burnout, hingga membangun ketangguhan diri.
Mengusung tema “Beranjak Dewasa: Bertahan, Bertumbuh, dan Pulih Bersama”, kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Theater Poltekkes Kemenkes Jakarta III, Jatiwarna, Kota Bekasi, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan diikuti sekitar 200 mahasiswa secara langsung maupun daring melalui Zoom.
Acara dibuka Ketua Tim Kerja Mahasiswa dan Ikatan Alumni Poltekkes Kemenkes Jakarta III, Citra Amaniah Anhar, M.Si.
Ketua Pelaksana Internship Mental Health 2026, Mullah Muhammad Umar, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya kepedulian dan dukungan dalam menjaga kesehatan mental.
“Kita mungkin tidak selalu bisa menyembuhkan luka satu sama lain, tetapi setidaknya kita bisa belajar untuk tidak membiarkan siapa pun merasa sendirian dalam proses penyembuhannya,” ujarnya.
Hadir sebagai narasumber, Lili Marliyuana, Certified Self-Healing Professional, Emotional Healing Therapist, sekaligus Direktur ABCo Therapy Center.
Dalam sesi selama 90 menit, termasuk tanya jawab, Lili membawakan materi bertajuk “Less Stress, More Progress: Navigating Academic Pressure and Growing with Resilience”.
Ia mengajak mahasiswa mengenali berbagai sumber tekanan selama menjalani perkuliahan, mulai dari tugas menumpuk, ujian, praktikum, tuntutan keluarga, persaingan akademik, hingga kekhawatiran menghadapi masa depan.
Menurut Lili, mahasiswa perlu memahami bahwa kelelahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau diatasi dengan terus memaksakan diri. Mereka harus mampu mengenali batas kemampuan tubuh dan pikiran, termasuk membedakan kelelahan biasa dengan burnout akademik.
Ia juga mengingatkan bahwa prestasi dan nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan maupun harga diri seseorang.
Empat Langkah Mengelola Stres Akademik
Dalam pemaparannya, Lili memperkenalkan empat langkah praktis untuk menghadapi tekanan akademik. Keempatnya meliputi mengenali kondisi diri, menenangkan respons tubuh dan pikiran, menyusun kembali prioritas, serta membangun hubungan dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan.
Mahasiswa juga diajak mempraktikkan metode Pause, Breathe, Notice, Prioritize. Melalui metode ini, peserta belajar berhenti sejenak, mengatur napas, mengenali kondisi diri, dan menentukan prioritas tindakan yang perlu dilakukan.
Lili menegaskan, ketangguhan atau resiliensi bukan berarti seseorang harus selalu terlihat kuat, tidak boleh menangis, atau mampu menyelesaikan semua persoalan sendirian.
Sebaliknya, resiliensi merupakan kemampuan beradaptasi, mencoba strategi baru, memahami keterbatasan diri, dan berani meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Mahasiswa Susun Rencana Merawat Diri Selama Tujuh Hari
Tidak hanya membahas teori, kegiatan ini juga menghadirkan sesi aplikatif bertajuk My 7-Day Wellness & Growth Plan. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diminta menyusun komitmen sederhana untuk menjaga kesejahteraan diri selama tujuh hari ke depan.
Rencana tersebut mencakup empat aspek, yakni menjaga kesehatan fisik (Body), merawat pikiran dan emosi (Mind), menentukan tindakan realistis (Action), serta mengenali orang atau layanan yang dapat memberikan dukungan (Support).
Mahasiswa juga diingatkan agar tidak ragu mencari bantuan ketika tekanan yang dialami semakin berat dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Bantuan dapat diperoleh melalui dosen wali, konselor kampus, psikolog, dokter, maupun tenaga profesional lainnya.
Menurut Lili, kemampuan merawat diri merupakan bagian penting dari tanggung jawab setiap individu, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan menjalani profesi di bidang kesehatan.
“Your worth is bigger than your grades. Your growth is bigger than your struggles. You don’t have to be perfect to make progress,” pesannya.
Melalui Internship Mental Health 2026, Poltekkes Kemenkes Jakarta III berharap mahasiswa semakin siap menghadapi tekanan perkuliahan, mampu mengelola stres secara sehat, serta memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri dan orang lain.
Sebab, calon tenaga kesehatan tidak hanya dituntut mampu merawat orang lain, tetapi juga harus memahami pentingnya menjaga kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri.
Editor : Adjet
