BRO. KOTA BOGOR – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Bogor terus mendorong peningkatan literasi politik generasi muda sebagai upaya mencetak pemilih cerdas dan kritis menjelang Pemilu 2029. Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengembangan Wawasan Politik bertema “Literasi Politik Generasi Muda, Membangun Politik Gagasan di Era Media Sosial” yang digelar di Rizen Hotel, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan yang diikuti 60 peserta dari wilayah Bogor Barat itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan legislatif, partai politik, dan insan pers untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan anak muda dalam kehidupan demokrasi.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan Bakesbangpol Kota Bogor, Anang Yusuf, mengatakan pendidikan politik menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi berbagai agenda demokrasi di masa depan.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi pemilih pasif, tetapi harus mampu memahami sistem politik, mengawal kebijakan publik, serta berperan aktif dalam pembangunan daerah.
“Berdasarkan data KPU, tingkat partisipasi pemilih di Kota Bogor pada Pemilu 2024 mencapai 84 persen. Angka ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman politik yang baik agar menjadi agen perubahan yang kritis dan bertanggung jawab,” kata Anang.
Ia menegaskan bahwa partisipasi politik tidak hanya diwujudkan melalui pencoblosan saat pemilu, tetapi juga dengan keterlibatan dalam proses pembangunan, termasuk menyampaikan aspirasi melalui forum-forum publik seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Dalam sesi pemaparan materi, Anggota Komisi II DPRD Kota Bogor Heri Cahyono menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurut Heri, media sosial telah menjadi sumber utama informasi bagi anak muda. Namun, tanpa kemampuan literasi yang memadai, informasi yang diterima berpotensi menimbulkan persepsi keliru terhadap dunia politik.
“Banyak yang memandang politik hanya sebagai perebutan kekuasaan, intrik, fitnah, dan konflik. Padahal politik memiliki tujuan mulia untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mencapai tujuan bernegara,” ujarnya.
Karena itu, Heri mengajak para peserta untuk membiasakan diri melakukan verifikasi informasi, tidak mudah terpengaruh hoaks, serta mampu membedakan fakta dan opini yang beredar di media sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak, integritas, dan kontribusinya kepada masyarakat.
“Setiap suara menentukan arah masa depan bangsa. Jangan sampai generasi muda kehilangan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Heri.
Sementara itu, Ketua PWI Kota Bogor Herman Indrabudi atau yang akrab disapa Kang Aldo mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Menurutnya, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
“Prinsipnya sederhana, yakni saring sebelum sharing. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum tentu benar,” ujar Kang Aldo.
Ia menambahkan, demokrasi yang sehat tidak diukur dari ramainya perdebatan di media sosial atau tingginya jumlah interaksi digital, melainkan dari kualitas gagasan yang disampaikan kepada publik.
“Kualitas demokrasi tidak ditentukan oleh banyaknya like dan komentar. Demokrasi yang baik lahir dari pertukaran gagasan yang konstruktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendidikan politik Bakesbangpol Kota Bogor yang telah dilaksanakan sebanyak 14 kali melalui skema kemitraan. Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran politik masyarakat sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di Kota Bogor.
Editor : Adjet
