Kelurahan Cibadak Bogor Genjot UMKM, Kelola Sampah hingga Tangani 41 Anak Stunting

BRO. KOTA BOGOR — Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus mempercepat pembangunan kewilayahan dengan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, memperkuat pengelolaan sampah, hingga menekan angka stunting.

Lurah Cibadak, Herry Chaerudin, mengatakan wilayah yang dipimpinnya memiliki beragam potensi ekonomi masyarakat, mulai dari UMKM, industri rumahan, budidaya ikan hias, kelompok tani, hingga pengelolaan lingkungan berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R).

“Kelurahan Cibadak memiliki potensi yang cukup besar, baik dari sektor ekonomi masyarakat maupun lingkungan,” kata Herry, Senin (10/8/2026).

Saat ini, Kelurahan Cibadak dihuni 29.420 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 14.843 laki-laki dan 14.577 perempuan yang tersebar di 15 RW.

Dari sisi penerimaan daerah, realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kelurahan Cibadak hingga Agustus 2026 telah mencapai Rp5.376.951.153 atau sekitar 65 persen dari target yang ditetapkan lebih dari Rp10 miliar.

UMKM Cibadak Tersebar di 15 RW
Potensi ekonomi masyarakat Cibadak tersebar hampir di seluruh wilayah. Herry menyebut sejumlah UMKM memiliki produk dan karakteristik usaha yang berbeda di setiap RW.

Di antaranya budidaya jangkrik dan kerajinan serok. Kemudian budidaya ikan hias yang menyasar pasar ekspor di RW 08, RW 09, dan RW 10.

Selain itu, terdapat kelompok tani, Food Center hidroponik, serta usaha pengolahan keripik sayur organik di RW 15.

Namun, tidak seluruh pelaku UMKM mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi dan persaingan harga. Salah satunya usaha ayam ungkep di RW 03 yang mulai mengalami penurunan penjualan.

Herry mengatakan harga menjadi salah satu persoalan yang membuat produk ayam ungkep lokal sulit bersaing di pasaran.

“Memang kondisi ekonomi saat ini kurang baik-baik saja. Usaha ayam ungkep ini mulai menurun. Biasanya mereka menjual ayam saja Rp8.000, tetapi kalah bersaing dengan porsi nasi padang murah seharga Rp10.000,” ujarnya.

Menurut Herry, kondisi tersebut membutuhkan intervensi agar pelaku usaha lokal tetap mampu bertahan dan mengembangkan usahanya.

Ada ‘Kampung Berisik’ di Cibadak
Selain UMKM, Kelurahan Cibadak juga memiliki sentra industri rumahan yang cukup khas di RW 12. Kawasan tersebut dikenal warga dengan sebutan “Kampung Berisik” atau “Kampung Ganteng”.

Julukan tersebut muncul karena aktivitas pengrajin wajan dan panci yang menghasilkan suara dentangan hampir setiap hari. Selain itu, usaha kerupuk kulit rumahan juga menjadi salah satu aktivitas ekonomi warga di kawasan tersebut.

“Kalau belum biasa ke sana, kuping harus pakai kapas karena suara dentangan pembuatan wajan dan panci setiap hari. Kerupuk kulit rumahan juga masih mendominasi di situ,” ujar Herry.

Pengelolaan Sampah Jadi Perhatian
Di sektor lingkungan, Kelurahan Cibadak mengandalkan fasilitas TPS3R Cibadak serta Bank Sampah Orchid di RW 15 yang mulai diinisiasi sejak 2025.

Kelurahan juga mendapat dukungan satu unit motor sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor untuk membantu pengangkutan sampah.

Meski demikian, pengelolaan sampah masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk akses jalan untuk pengangkutan sampah di RW 04 dan persoalan sosial dalam proses pengolahan komposter.

“Ke depan, kami berencana membangun integrasi fasilitas Bank Sampah di sebelah TPS3R Tamansari Persada untuk meningkatkan partisipasi warga menjadi nasabah,” jelas Herry.

9 Pelaku Usaha Jadi Bapak Asuh 41 Anak Stunting

Persoalan kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian Kelurahan Cibadak. Untuk mempercepat penanganan stunting, kelurahan menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Herry mengungkapkan, sebanyak sembilan pelaku usaha di wilayah Cibadak telah berkomitmen menjadi bapak asuh bagi 41 anak yang mengalami stunting.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas dukungan penanganan stunting di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

“Kami mencoba merangkul para pelaku usaha yang berkenan bekerja sama menangani stunting. Kami berharap keberadaan pelaku usaha di Kelurahan Cibadak manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat, bukan hanya mengeruk keuntungan semata,” tegas Herry.

Pembangunan Sarpras Terus Dikebut
Sementara itu, program sarana dan prasarana (sarpras) Kelurahan Cibadak tahun 2026 terus berjalan.

Pemeliharaan jalan di RW 09 telah rampung pada Mei 2026. Renovasi Posyandu di Gang Sahabat, RT 04/RW 05, juga telah selesai.

Selanjutnya, pembangunan Posyandu baru di RW 11 direncanakan mulai dilaksanakan pada September 2026.

Camat Tanah Sareal, Rokib, mengatakan wilayahnya saat ini menjadi salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan pembangunan cukup pesat di Kota Bogor.

“Tanah Sareal ini wilayah yang sedang berkembang pesat. Banyak program kewilayahan, baik dari APBD Kota Bogor, Pokir, maupun inovasi kewilayahan,” kata Rokib.

Ia berharap kegiatan pers gathering dapat menjadi ruang untuk menggali potensi sekaligus persoalan di tingkat kelurahan secara lebih komprehensif.

“Pak Lurah sebagai narasumber utama dapat memaparkan potensi dan permasalahan di Kelurahan Cibadak secara komprehensif,” pungkasnya.

Kalau ingin lebih tajam untuk portal berita, judulnya juga bisa dibuat lebih provokatif, misalnya: “Cibadak Bogor Punya Banyak Potensi, tapi UMKM Terjepit Persaingan Harga dan 41 Anak Masih Stunting.”

Editor : Adjet

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses