“BARA” DI BALIK MUKAB IX KADIN BOGOR: Dari Isu “Pendopo” Hingga Kolaborasi Injury Time

Oleh: Ir. Yonathan Nugraha

Sebenarnya ada ‘bara’ di balik sukOleh: Ir. Yonathan Nugrahasesi kepemimpinan Kadin Kabupaten Bogor pada Mukab IX. Di permukaan tampak tertib dan demokratis. Tapi di balik ballroom, ada manuver, ada lobi tengah malam, ada rasa kecewa, dan ada strategi “injury time”. Inilah demokrasi organisasi yang sesungguhnya.

BRO. CIBINONG – Musyawarah Kabupaten (Mukab) IX Kadin Kabupaten Bogor resmi ditutup Ketua Kadin Jawa Barat Almer Faiq Rasyidi, Selasa 2 September 2026 pukul 22.30 WIB, di Ballroom Hotel Harris, Cibinong.

Yang menarik, pada sambutan saat pembukaan Mukab yang dihadiri Sekretaris Daerah Ajat Jatnika, Almer justru “membuka pendulum” di hadapan 600 hadirin.

Almer terus terang mengakui ada komunikasi dengan Bupati. Ia meminta agar Bupati menyampaikan sikapnya dengan memanggil ketiga kandidat. Sebab, menurut Almer, ia pernah berkomunikasi dengan Rudy Susmanto dan Bupati tidak punya “jagoan”.

*”Biar Mukab berproses secara demokratis melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan terbaik,”* ujar Almer.

Karena itu, Almer menolak adanya penggiringan terhadap salah satu calon. Pernyataan ini penting. Ia ingin menjaga marwah Kadin sebagai organisasi independen.

Fenomena “Pendopo” dan Manuver Injury Time

Namun realitas di lapangan berbeda. Fenomena ‘pendopo’ — istilah untuk isu dukungan Bupati kepada salah satu kandidat — tentu saja membuat kubu Tim Pemenangan Hilal merapatkan barisan dan mengatur strategi pemenangan baru.

Isu ini berhembus kencang malam sebelum Mukab. Bahwa ada “sinyal” dari Pendopo mendukung Dr. Sulhaji Jompa yang membawa 28 asosiasi. Bagi tim Hilal, ini ancaman serius. Jika dibiarkan, peta suara bisa berat sebelah.

Maka malam itu juga, Tim Pemenangan bersama Hilal mencoba melobi kandidat Ridwan Rusliandi alias Brehom.

Setelah beberapa kali diskusi melalui telepon selular, jelang tengah malam disepakati: Hilal dipertemukan dengan Brehom. Pertemuan itu berlangsung hingga menjelang subuh, Rabu 2 September. Dan di sanalah ditemukan titik kesamaan pandang.

Rasa “Dikhianati” yang Menyatukan

Apa yang membuat Brehom akhirnya mau berkolaborasi? Ternyata ada latar belakang emosional.

Brehom merasa “ditinggal” oleh Ketua Kadin. Padahal sebelumnya, orang yang sama itu justru orang pertama yang meminta Brehom menyiapkan diri menjadi kandidat Ketua Kadin periode 2026-2031.

Baca Juga : Hilal Firmansyah Pimpin Kadin Bogor 2026-2031: Usung “Rereongan Sangkan Waluya” dan Konsolidasi Dunia Usaha

Karena merasa sakit dan dikhianati, Brehom memilih sepakat bersama Hilal. Bukan karena benci, tapi karena ingin menyelamatkan Kadin dari dominasi satu poros kekuatan.

*”Ini bukan soal kalah-menang pribadi. Ini soal masa depan Kadin,”* demikian kurang lebih semangat yang mengemuka dalam pertemuan dini hari itu.

Hal itulah yang membuat peta politik Mukab Kadin berubah di _injury time_. Dalam 6 jam sebelum sidang, koalisi baru terbentuk.

Pertunjukan Kolaborasi di Ruang Sidang

Bukti kolaborasi itu langsung terlihat jelas di arena Mukab. Ketika memasuki ruang sidang, Brehom dan Hilal berjalan berdampingan. Di belakang mereka diikuti puluhan Tim Pemenangan gabungan.

Pemandangan ini mengirim sinyal kuat ke seluruh peserta: kekuatan sudah menyatu.

Dan klimaksnya terjadi saat penyampaian visi misi. Ridwan Rusliandi di tengah orasinya menyatakan mundur.

*”Saya meminta kepada seluruh pendukung saya untuk memberikan suara dukungannya kepada Hilal Firmansyah,”* tegas Brehom.

Keputusan itu disambut tepuk tangan. Sekaligus mengubah peta perolehan suara secara drastis. Dari pertarungan 3 kutub, menjadi head to head Hilal vs Sulhaji.

Catatan Teknis dan Demokrasi Prosedural

Terlepas dari drama politik, secara teknis Mukab juga punya catatan.

Acara memang berlangsung lancar, dinamis dan aman. Pimpinan sidang 5 orang dipimpin Didi Furqon menjalankan perannya piawai, fleksibel dan tegas.

Namun ada agenda yang disederhanakan karena keterbatasan waktu kontrak hotel. Ironisnya, acara tetap molor sampai pukul 22.30 WIB. Akibatnya fasilitas makan malam tidak tersedia, dan banyak peserta pulang sebelum Pleno IV perhitungan suara.

Ruang yang awalnya dipadati 600-700 orang menjadi relatif kosong saat penghitungan. Hanya tim pemenangan, pengurus, dan panitia yang bertahan. Ini PR besar untuk Mukab berikutnya: bagaimana menjaga partisipasi sampai akhir.

Pelajaran Berorganisasi untuk Gen Z

Kenapa penulis mengupas “bara” ini? Karena ini materi penting bagi generasi muda milenial dan Gen Z dalam belajar berorganisasi.

Negara kita adalah negara demokratis sebagaimana diatur dalam Pancasila dan UUD 1945. Secara budaya, kita memegang kearifan lokal berupa filosofi patrilineal: menghormati yang dituakan, pemimpin, ulama, orangtua.

Nilai unggul seorang pemimpin adalah menjadi panutan. Dan panutan itu sederhana: *’satunya kata dengan perbuatan’*.

Almer menunjukkan itu dengan menolak penggiringan.
Brehom menunjukkan itu dengan mengorbankan ambisi demi persatuan.
Hilal menunjukkan itu dengan merangkul semua pihak setelah menang.

Mereka bertiga sedang mengajarkan politik etis kepada kita.

Tantangan Hilal ke Depan: Menjaga Independensi

Kini Hilal Firmansyah terpilih. Kemenangan 279 vs 210 ini tidak lepas dari kolaborasi _injury time_ dengan Brehom.

Tantangan terbesar Hilal adalah 2 hal:
1. Menjaga independensi Kadin dari bayang-bayang “pendopo” atau kekuasaan manapun. Kadin harus jadi mitra kritis, bukan stempel.
2. Membuktikan semangat “rereongan sangkan waluya”. Koalisi dengan Brehom jangan berhenti di ruang sidang. Harus dilanjutkan dalam penyusunan pengurus dan program kerja.

Kabupaten Bogor dengan 5,9 juta penduduk dan ribuan UMKM butuh Kadin yang kuat, bukan Kadin yang terpecah.

Demokrasi Itu Kotor, Tapi Indah

Demokrasi memang begitu. Ada lobi, ada isu, ada rasa kecewa, ada manuver. Tapi jika semua pemain punya etika, maka dari kekotoran itu akan lahir keputusan terbaik.

“Bara” di Mukab IX adalah bukti bahwa Kadin Kabupaten Bogor masih hidup. Masih ada yang peduli, masih ada yang mau berdebat, masih ada yang mau berkorban.

Dari “pendopo” hingga “injury time”, dari rasa dikhianati hingga kolaborasi, semua itu adalah proses pendewasaan.

Selamat kepada Hilal dan Brehom. Selamat kepada Kadin Kabupaten Bogor. Semoga dari bara ini lahir api pencerahan untuk dunia usaha Bogor yang lebih maju.

Penulis  Ir. Yonathan Nugraha
Jurnalis Senior

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses