“Perumda Pasar Tohaga terkesan tidak peduli terkait pencemaran lingkungam akibat limbah organik sampah pasar. Oleh karenanya Paguyuban Pemuda Leuwiliang pun melayangkan surat kepada Bupati Bogor agar Pemkab turun tangan menyelesaikan persoalan limbah Pasar Leuwiliang”
BRO. KABUPATEN BOGOR – Pencemaran lingkungan akibat limbah Pasar Leuwiliang, Kabupaten Bogor, kembali memicu protes masyarakat. Bertahun-tahun limbah organik dan cairan kotoran sisa aktivitas pedagang dibiarkan mengalir tanpa pengelolaan memadai. Akibatnya, bau menyengat dan penurunan kualitas lingkungan terus terjadi di sekitar pasar tradisional terbesar di wilayah Barat Kabupaten Bogor tersebut.
Meski Pasar Leuwiliang tengah dibangun ulang pasca kebakaran, persoalan limbah belum mendapat perhatian serius dari Perumda Pasar Tohaga selaku pengelola.
Ketua Paguyuban Pemuda Leuwiliang, A. Saepuloh, menilai Perumda Pasar Tohaga kurang peduli pada isu lingkungan yang menjadi fokus pembangunan Kabupaten Bogor.
“Kami sudah bersurat pada 21 Agustus 2025 meminta direksi Perumda Pasar Tohaga duduk bersama membahas solusi penanganan limbah. Namun hingga kini tidak ada respons, bahkan permintaan bertemu pun diabaikan,” kata Saepuloh, Minggu (27/9).
Ia menegaskan masyarakat tidak menuntut berlebihan, hanya meminta kepastian langkah dan komitmen nyata agar pencemaran limbah pasar bisa ditanggulangi. Karena surat pertama diabaikan, pihaknya melayangkan surat kedua yang menekankan pertanggungjawaban Perumda Pasar Tohaga atas limbah pasar.
Saepuloh juga menyoroti sikap Direktur Utama Perumda Pasar Tohaga, Haris Setiawan, yang merupakan putra daerah Leuwiliang.
“Kalau di tanah kelahirannya sendiri beliau enggan merespons, apalagi di daerah lain. Ini menyangkut kepedulian dan tanggung jawab moral, bukan sekadar jabatan,” ujarnya.
Pencemaran limbah pasar dinilai tidak hanya mengganggu estetika dan kenyamanan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Limbah organik memicu berkembangnya lalat, tikus, serta penyakit, sementara limbah cair mencemari saluran air dan sungai. Warga khawatir kualitas air tanah menurun dan udara tercemar bau menyengat.
Sementara Perumda Pasar Tohaga terkesan tidak peduli terkait pencemaran lingkungam akibat limbah organik sampah pasar. Oleh karenanya Paguyuban Pemuda Leuwiliang pun melayangkan surat kepada Bupati Bogor agar Pemkab turun tangan menyelesaikan persoalan limbah Pasar Leuwiliang.
“Kami percaya Bupati Bogor memiliki komitmen terhadap isu lingkungan. Karena itu kami meminta beliau mengambil langkah nyata dan tegas,” jelas Saepuloh.
Masyarakat berharap pembangunan ulang Pasar Leuwiliang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga menghadirkan sistem pengelolaan limbah modern dan berkelanjutan agar pasar tidak lagi menjadi sumber pencemaran.
Penulis : Dharma Wahyu
Editor : Adjet
