Kelurahan Mekarwangi Bogor Perkuat Penanganan Stunting, TPS 3R hingga Urban Farming

BRO. KOTA BOGOR – Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus memperkuat pembangunan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai program unggulan mulai dari penanganan stunting, pengelolaan sampah terpadu, urban farming, hingga penguatan UMKM dijalankan untuk menciptakan kawasan yang sehat, mandiri, dan bernilai ekonomi tinggi.

Lurah Mekarwangi, Muhammad Nur, mengatakan keberhasilan pembangunan di wilayahnya merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Sinergi tersebut menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif.

Salah satu program prioritas adalah penanganan stunting melalui Program Bapak Asuh Stunting. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pimpinan instansi, hingga pelaku usaha sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yang terindikasi stunting.

“Program ini tidak hanya memberikan bantuan makanan bergizi, tetapi juga pendampingan dan edukasi kesehatan bagi ibu hamil serta ibu menyusui agar penanganan stunting dilakukan secara menyeluruh,” kata Muhammad Nur, Kamis (23/7/2026).

Di sektor lingkungan, Kelurahan Mekarwangi memiliki TPS 3R Mekar Mandiri yang menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah di Kota Bogor. Fasilitas yang berdiri di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi ini beroperasi sejak Agustus 2023 melalui kolaborasi Pemerintah Kota Bogor dan World Wide Fund for Nature (WWF).

Menurut Muhammad Nur, TPS 3R tersebut mampu mengolah sampah plastik bernilai rendah yang selama ini sulit didaur ulang sehingga mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kawasan TPS 3R juga dilengkapi penanaman ratusan pohon sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Mekarwangi juga menyatakan dukungan terhadap pembangunan Pusat Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kayumanis. Sebagai wilayah Ring 1, edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga terus digencarkan agar pengelolaan sampah berjalan efektif dari hulu hingga hilir.

“Seluruh wilayah Ring 1 mendukung pembangunan PSEL Kayumanis. Kami terus mengedukasi masyarakat agar sampah dipilah sejak dari rumah menjadi organik dan anorganik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan potensi timbulan sampah di Kecamatan Tanah Sareal mencapai sekitar 31 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen telah diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup, sedangkan sisanya masih berupa sampah organik yang belum seluruhnya dapat diolah karena keterbatasan kapasitas TPS 3R dan bank sampah.

Muhammad Nur optimistis teknologi yang diterapkan pada PSEL Kayumanis mampu meminimalkan dampak lingkungan, termasuk emisi, karena menggunakan sistem pengolahan sampah menjadi energi listrik yang lebih ramah lingkungan.

Selain pengelolaan sampah, Kelurahan Mekarwangi juga mengembangkan ketahanan pangan melalui program urban farming. Di RW 11 Vila Mutiara Bogor, kelompok petani muda berhasil mengembangkan budidaya pangan mandiri yang diperkuat dengan bantuan mesin pompa air dari program CSR pada 2025.

Program serupa juga dijalankan kelompok ibu rumah tangga di Perumahan Bukit Mekarwangi melalui budidaya tanaman hidroponik. Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kegiatan tersebut turut memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Di bidang ekonomi, Mekarwangi memiliki sejumlah potensi UMKM, mulai dari Rumah Kopi Bogor di kawasan Pabuaran hingga industri olahan singkong seperti tape dan tepung mocaf. Wilayah ini juga dikenal sebagai sentra kerajinan rumah tangga dan produk dekorasi yang menyerap tenaga kerja lokal.

Menurut Muhammad Nur, perkembangan kawasan permukiman di Mekarwangi sudah berlangsung sejak 1995. Saat ini hampir tidak ada lagi pembukaan kawasan perumahan baru secara besar-besaran karena sebagian besar lahan telah berubah menjadi kawasan hunian.

“Kalau sekarang pembangunan lebih kepada pengisian kawasan yang sudah ada. Pengembang yang membuka perumahan baru secara masif sudah tidak ada lagi,” jelasnya.

Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pihak kelurahan juga memperketat pengawasan terhadap pembangunan minimarket maupun supermarket. Setiap pelaku usaha diwajibkan melengkapi seluruh perizinan sebelum beroperasi serta didorong berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kami terus melakukan monitoring dan meminta setiap pelaku usaha memenuhi seluruh perizinan. Kami juga mendorong mereka berkontribusi terhadap program sosial dan lingkungan melalui CSR,” tegas Muhammad Nur.

Melalui penguatan program penanganan stunting, pengelolaan sampah terpadu, urban farming, pemberdayaan UMKM, dan pengawasan pembangunan, Kelurahan Mekarwangi optimistis mampu menjadi kawasan permukiman yang berdaya saing, ramah lingkungan, dan semakin diminati sebagai lokasi investasi di Kota Bogor.

Editor : Adjet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses